S.T.A.N.D.A.R — Seni Mempersulit Hidup

Ah…Sebuah kata kecil yang mengikat terlalu banyak hal

S.T.A.N.D.A.R
Tunggu apa itu?
Sebuah penyangga motor?
Pfft… hahaha. Aku menertawakan kebodohanku sendiri atau mungkin dunia yang lebih bodoh dariku.

Setiap kali kata itu muncul, aku ingin muntah.
Tapi entah kenapa, aku masih menelannya setiap hari.
“Standar,” katanya.
Standar sosial.
Standar kecantikan.
Standar ketampanan.
Standar ekonomi.
Standar kelayakan menjadi manusia.

Katanya, tanpa standar… kita akan liar.
Tapi siapa yang menetapkan ukurannya?
Manusia dengan dasi terikat dan senyum penuh gigi palsu?
Lelaki dengan rekening bengkak dan pikiran kerdil?
Perempuan dengan dagu lancip hasil sayatan dan hati yang ditambal likes? Ironi sekali .

Standar, oh standar...
Apakah kau penentu kehidupan manusia?
Ataukah hanya alat mereka, para pemilik kursi megah, yang bercokol di singgasana palsu?

Jeratan berduri itu mengikat otakku...
menyulam luka pada setiap simpul sarafku.
Mulutku terbungkam, sakit... sangat sakit.
Aku ingin berteriak, tapi suara itu karam sebelum lahir.
Bukan hanya menyesakkan, tapi melukai.
Sampai-sampai, isi kepalaku berserakan seperti serpihan kaca.
Mulutku membisu bukan karena aku tak tahu kata,
Tapi karena suara ini sudah terlalu lama dikurung.

Namun raga ini... ah, raga ini seperti kabut,
lenyap entah kemana.
Sekalipun jerat ini membungkus kepalaku hingga berdarah,
arah pikiranku tetap tersesat—terbuai dalam jaring ilusi bernama standar ini.

Pikiranku melayang, tersesat di padang ilusi:
“Ah, andai aku cantik seperti mereka…”
Kulitku harus semulus marmer showroom,
Tubuhku harus ramping, anggun, dan mudah difoto.
Suara tawaku harus merdu tak boleh terlalu keras,
Nanti tak feminin.

Aku harus punya pacar seperti potongan majalah:
Tampan, tinggi, religius, ...kaya! Ah ya!
dan harus yang selalu mempostingku setiap minggu agar aku ‘berharga’.
Astaga...
Tuhan sedang bercanda dengan ku?.
Atau manusia terlalu licik memalsukan surga.

Tapi mimpi itu pecah.
Terbangun aku dari pertunjukan drama yang hanya berlangsung dalam lamunanku sendiri.
Sial....sial ..sialan!
Dimana adegan tadi?
Kembalikan skrip itu!
Aku belum selesai pura-puranya.

Ternyata realita tak pakai panggung.
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada penonton.
Yang ada cuma cermin,
dan wajahku sendiri .. berantakan dan kebingungan.

Dimana buaian semu itu?
Angan yang tak kesampaian,
hingga matahari di atas sana menertawakanku,
seolah ia pun bosan pada dramaku yang usang. Sementara aku memungut serpihan harga diri yang entah milik siapa

Sial.
Semua ini hanya mempermainkanku.
Bangunlah...
jangan bermimpi.
Karena dunia tak sudi menampung mimpimu.

Ini bukan dunia.
Ini panggung boneka.
Dan standar?
Ia cuma benang tak terlihat
yang menggerakkan kita semua tanpa kita sadari.

Tapi cukup.
Bangunlah.
Potong benangnya.
Luka boleh berdarah,
Asal bukan pikiranmu yang menyerah..

Komentar