Garpu Bengkok di Pesta Pisau Perak

Mereka bilang
bergaul itu seni
aku kira maksudnya seni melukis wajah sendiri
dengan warna yang disukai ruang tamu.

Di ruang sosial,
aku duduk dengan mulut penuh,
bukan oleh makanan,
tapi oleh kata-kata yang tak boleh ditelan mentah.

Orang-orang bicara
dengan garpu dan sendok yang tak sinkron.
Yang satu menusuk,
yang lain menggali.

Di meja yang tak terlihat,
kami saling menawarkan diri
bukan untuk dimengerti,
tapi sekadar tak tampak sendiri.

Bahasa yang dipakai pun usang
senyum plastik, gelengan palsu,
dan tawa yang disambung dengan sunyi.

Katanya
lingkaran itu hangat.
Tapi kenapa aku lebih sering merasa seperti bantal cadangan
ada, tapi hanya dipakai saat suasana tak nyaman?

Aku mencoba jadi hangat juga,
tapi api sosial itu sering membakar
tanpa alasan yang bisa ditagih.
Dan entah kenapa,
semakin sering aku hadir,
semakin banyak aku tak dikenali.

Mereka bilang
“Jangan terlalu keras,
nanti dianggap aneh.”
Tapi siapa yang memutuskan
frekuensi wajar bagi suara manusia?

Di jamuan ini,
tidak ada kursi.
Hanya sandaran punggung-punggung
yang saling menduga,
dan satu piring besar penuh
dengan hal-hal yang tak pernah dimakan.

Aku ingin pulang,
tapi tak tahu pintu mana yang tidak berlapis basa-basi.
Sosial ini bukan rumah,
lebih mirip panggung sandiwara yang lupa ganti naskah
sejak tiga tahun lalu.

Mereka tertawa,
seolah kejujuran itu lelucon minoritas.
Dan aku,
hanya sebatang garpu bengkok
di antara pesta pisau perak.

Garut, Juni 2025

Komentar