Matahari di Saku Ku


Matahari pagi kutemukan tergeletak,
Di saku celanaku yang koyak benangnya,
Seperti kelereng usang,
Ia diam, menggigil, Seakan lelah menyala—
untuk dunia yang tak pernah benar-benar melihatnya.

Piring-piring bunga di rak masih diam,
Dan tangis di bahuku tak kunjung selesai,
Ia menyeka cahaya dari pipinya,
menjadi senja agar bisa patah dengan anggun.

orang-orang mengabadikannya dalam foto,
tak tahu bahwa merah itu bukan indah,
tapi luka yang tak sempat sembuh sejak pagi.

Orang bilang matahari tinggal di langit,
Tapi aku tahu ia bersembunyi di bawah ranjangku,
Berkawan dengan debu dan rahasia sepatu tua.

Aku hanya meneguk kopi yang tiba-tiba terasa seperti senja,
Dan langit pun menguap pelan-pelan sore itu,
Meninggalkan langgam jingga yang retak di ujung dahi langit.

Dan saat malam tiba,
Aku jahit lagi saku celanaku,
Biar matahari tetap di sana,
Tak perlu lagi repot menyinari siapa-siapa.

Garut, Juli 2025

Komentar