Mimpi di Tengah Badai
tanahnya kering, langitnya gelap,
angin sering mencemooh,
dan hujan yang enggan turun.
Aku punya mimpi,
yang tak bisa dijual pada realita murah,
yang kupahat dalam diam,
di tengah malam saat semua tertidur pasrah.
Biarlah aku jatuh seribu kali,
Asal sekali saja kutemukan pintu itu,
yang di baliknya
ada cahaya dari keringat yang tak sia-sia ini.
Aku bukan anak takdir yang diberi jalan lapang,
tanganku hanya punya luka, bukan pusaka,
tangan ini luka oleh duri waktu.
Meski kata mereka, angin terlalu garang,
tanah terlalu keras, dan tangan ini terlalu kecil,
Tapi aku tetap menengadah,
menyebut nama cita-cita,
yang kusemat sejak aku belum mengerti luka,
Meskipun langkah ku berdarah diam-diam,
Aku tetap berjalan,
sebab harapan tak pernah tumbuh
di tanah yang mudah.
Garut, Juni 2025
Komentar
Posting Komentar