Persimpangan Perasaan
Terpahat sunyi di relung jiwa,
Perasaan berbisik, rintik aksara,
Mengukir ragu, di antara jelaga.
Bunga-bunga asmara merekah di dada,
Merajut mimpi, dalam pelukan kalbu,
Namun biduk takdir, menanti di dermaga,
Menawarkan arah, di persimpangan waktu.
Ada riak gelombang, memanggil ke utara,
Di mana mentari jingga, menari di awan,
Ada pula hening, membujuk ke selatan,
Di sana rembulan purba, bersembunyi di dahan.
Namun jalan mana yang harus kupilih?
Langkah yang kupijak menyimpan janji
atau jalan tak bernama yang hanya dikenal hatiku sendiri?
Aku pernah menjadi ragu,
menggenggam satu nama tapi menatap yang lain,
karena cinta tak selalu adil,
dan hati terlalu lembut untuk dihukum logika.
Jika aku melangkah, bukan berarti hatiku tak ingin bertahan.
Jika aku tinggal, bukan berarti aku tak pernah ingin bebas.
Ada pengorbanan, di setiap jejak langkah,
Ada kebijaksanaan, di balik keputusan.
Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling kuat menggenggam,
hati yang benar-benar dewasa,
tahu kapan harus melepaskan
Dan kadang, mencintai berarti membiarkan,
bukan karena menyerah,
tapi karena menghargai.
Garut, Juni 2025
Komentar
Posting Komentar