Rumah Tua Itu
angin menggoyang tirai tipis yang dulu bundaku jahit,
aroma kayu lapuk dan kenangan menguar,
seperti uap sup hangat di sore berdebu sunyi.
Kursi rotan tak berpenghuni itu
Pernah menjadi tahta kasih bunda,
Tempat ia menyuap senja ke dalam piringku,
Dengan tangan yang tak pernah gemetar oleh lelah.
Rumah ini tak berubah,
tapi kini aku hanya tamu,
di tanah yang dulu memanggilku anak.
Rumah itu sepi,
Bunda telah berlayar pada pagi yang tak lagi kembali.
Langkahku gemetar di lantai kayu kenangan,
Masih ada bayang tubuhnya di sudut dapur yang sunyi.
Aku panggil namanya dalam diam,
namun hanya angin yang menjawab dengan wangi daun salam.
Tak ada peluk, tak ada suara,
hanya dingin yang memeluk dada.
Tapi di setiap uap yang terbit dari panci kenangan,
aku tahu bunda tak pernah benar-benar meninggalkan.
Garut, Juni 2025
Komentar
Posting Komentar