Ekspektasi Tercekik Inflasi

Dulu, ada bibit-bibit impian, gembira bersemi di pot-pot imaji,
Disiram optimisme, dipupuk janji-janji manis politisi.
Katanya, langit adalah batas, katanya, usaha tak mengkhianati.
Kami pun percaya, menari riang di ladang ilusi yang fana ini.

Ada cita-cita rumah gedong, dengan kolam renang berdesir manja,
Mobil mewah mengkilap, terparkir anggun di halaman senja.
Liburan ke Bora-Bora, koktail di tangan, tawa lepas tanpa prasangka.
Membahagiakan orang yang telah mengurus diri ini.
Semua terekam jelas, bagai film blockbuster, siap diputar tanpa jeda.

Namun, oh, lihatlah kini! Panggung sandiwara ini mendadak gelap.
Pemain utamanya, si Ekspektasi, tergeletak kaku, wajahnya pucat pasi,
Bukan dibunuh oleh panah asmara atau intrik para bangsawan,
Melainkan oleh cekikan halus si Ekonomi, berbau bensin dan nasi.

Para hadirin ...
Ia mati, Tuan dan Nyonya
Ia telah mati,

Bukan karena takdir yang kejam,
Tapi karena harga-harga melesat bak roket tanpa kendali rem.
Mimpi punya rumah gedung? Kini cukup kontrakan petak, berbau apek.
Mobil mewah? Cukuplah motor butut, yang mogok di setiap tanjakan curam,
Gaji turun ke tangan ini namun hanya beberapa menit saja...
Uang-uang itu cepat bosan dan memilih menghilang, dengan gantinya adalah sesuatu yang tidak berguna.
Dan sisa gaji hanya cukup beli kuota internet, agar bisa melihat orang lain liburan di Instagram.

Oh, sungguh ironi yang menggelikan, sungguh lelucon yang tak lucu.
Dulu kami merajut asa, kini merajut nasib, benang kusut tanpa tuju.
Kami tertawa, tawa hambar yang menyayat, melihat diri sendiri terjerembap.
Dulu punggung tegap menantang dunia, kini bungkuk memunguti remah-remah.

Ekspektasi, kawan lama, kau terbaring tak berdaya.
Dirimu dulu gagah perkasa, di mana kepercayaan dirimu yang dulu, wahai 'ekspektasi'?
Kini semua hanya kenangan, samar di antara bayang-bayang luka.
Maafkan kami yang terlalu percaya pada dongeng-dongeng palsu,
Tentang kerja keras akan selalu membuahkan hasil, tentang hidup yang adil selalu.

Kini, kami hidup dalam komedi hitam, di mana setiap napas adalah ironi.
Tersenyum getir pada cermin, melihat pantulan wajah yang menua dini.
Kami terus berjalan, entah ke mana, di bawah langit kelabu yang sama,
Menari di atas kuburan ekspektasi, dengan iringan simfoni inflasi yang tak kunjung reda.

Garut, Juli 2025

Komentar