Kertas Buku Catatan ku Robek
Ah— Mereka melepaskan diri begitu saja ketika kuisikan dengan coretan. Siapa tahu dia merayakan separuh kebebasan dia, sementara aku tertegun dengan pena di tanganku.
Dengan pinggir bergerigi, bak senyum peri. Mungkin dia merindukan deretan angka, atau coretan penaku yang terburu-buru namun memeluknya.
Di punggung ringkasan, riwayat terukir rapi,
Kertas putih bersih, siap menampung mimpi.
Tapi angin lalu, atau jariku yang lalai,
Merobeknya dari pengait, atau mungkin pengait itu sendiri yang mulai berpaling darinya dalam diam pilu.
Kini dia melayang, sehelai layar tanpa tiang,
Dilepas dari ikatan, tak lagi terpasang.
Bukan lagi bab buku, bukan lagi halaman yang utuh,
Dia adalah fragmen, dengan kisah baru yang rapuh.
Terasing dari jilid, sendirian bergelantungan mencoba untuk tetap bertahan, dia melihat saudaranya, yang masih terikat dalam deretan bisu.
“Mengapa aku?” bisiknya, tanpa suara, tanpa gerutu,
“Mengapa nasibku harus berakhir begini, membiru?”
Mengambang dalam kekosongan yang biru.
Tapi lihatlah, dia tak ingin menyerah,
Meski terasing, dia tetaplah kertas.
Dia robek, ya, tapi jiwanya tak patah.
Bertahan, katanya, dalam bisikan hening.
Di antara serat-serat yang kini telanjang.
Walau tak lagi terikat, robekan konyol ini sekilas tampak seperti..., hidup yang tak selalu mulus, tapi tetap punya kontrol.
Atau siapa yang tahu, sebenarnya kertas dari buku catatanku ini yang mungkin muak atau bosan dengan cerita yang selalu kutumpahkan di sana.
Garut, Juli 2025
Komentar
Posting Komentar