Maaf?
Mulut itu dengan mudahnya memuntahkan kata manis yang berisi duri dan racun
Maaf? mungkin nanti saat jam dinding lapar.
Aku menyimpan kecewa
di lemari es beku, berjamur,
di sebelah kiri hati yang tak sempat direbus.
Katamu, maaf itu seperti angin.
Ah maaf, maaf... maaf....
Belasan kali... ratusan...
Tapi anginmu tak pernah lewat jalan yang sama
dan selalu mematahkan jendela yang baru kupasang.
Aku diam.
Seperti kursi tua yang pernah jadi saksi
pertengkaran dua bayangan di sore tak bernama.
Kau bicara manis,
tapi nadamu menyimpan belati
yang dibungkus permen karet dan disumpalkan ke telingaku.
Aku memaafkan.
Bukan karena engkau pantas,
tapi karena aku tak ingin tidur dengan bara di bawah bantal.
Mungkin nanti,
saat hujan bisa ditakar dengan sendok,
dan aku tak lagi mengenal suara tangisku sendiri.
Garut, Juli 2025
Komentar
Posting Komentar