Terlalu Berisik
Sudah terlalu lama dinding tua di ruangan ini menjadi saksi bisu. Suara adu mulut terdengar di mana-mana—bentakan dimuntahkan tanpa pikir, teriakan menggelegar memenuhi setiap sudut rumah.
Aku hanya menatap dua bayangan dari celah pintu. Dinding ini mungkin sudah jenuh, letih oleh pertengkaran yang terus-menerus terjadi di dalamnya.
Mereka bilang, “Hidup selalu beriringan dengan masalah.” Aku tahu, aku bukan orang bodoh. Tapi bagiku, hidup bukan tentang “selalu”—melainkan “akan.”
Akan ada masalah, ya, tapi bukan berarti ia jadi langganan.
Wajah tegas, tapi batinnya remuk.
Wajah baik, namun luka yang sama menyelimutinya.
Ego melawan ego membuncah. Tak ada kata maaf yang lahir dari mulut mereka.
Segalanya terbungkam, dibungkus harga diri yang membatu. Yang satu terlalu senang mengungkit kesalahan yang lain,
yang satu lagi terlalu tinggi hati menyombongkan diri, berdalih lebih baik, lebih benar, lebih mengerti agama.
Aku tak percaya dengan tawa-tawa yang mengisi ruang tamu saat semua berkumpul. Ketenangan itu mencurigakan.
Karena pada akhirnya, semua kembali pada pertikaian dan benar saja. Kebahagiaan hanya jadi jeda sebelum badai.
Suasana yang begitu "damai" itu justru menegangkan. Seakan dinding-dinding pun menahan napas, menunggu kapan suara keras itu datang kembali.
Amarah yang menyasar entah ke mana. Tahun demi tahun, tak ada yang berubah. Hari-hari terus mengulang siklus yang sama.
Kadang aku bertanya,
apakah mereka sebenarnya ingin menghancurkan diri mereka sendiri? Aku tak pernah mengerti... Selalu saja satu orang itu yang memulai. Mereka tak tahu semua ini justru menghancurkan kami bertiga… secara perlahan?
Terlalu berisik untuk disebut rumah. Adu mulut yang tak kunjung reda membuat hatiku takut....resah. Tidak kah mereka melirik kami bertiga?... Tidak kah mereka memikirkan perasaan hati kami bertiga?.
Tangis yang kutelan diam-diam menjadi teman paling setia. Bahasa mereka menyakitkan. Cara bicara yang meremehkan menikam harga diri.
Telingaku sakit.
Hatiku lebih lagi.
Dadaku sesak. Tolong...
Di mana aku harus tinggal?
Aku terlalu bosan dengan suara mereka. Terlalu jenuh mendengar cerita dari sudut pandang yang selalu menyalahkan.
Mereka tak sadar bahwa sejak awal.....mereka sudah menghancurkan, membunuh kami dari dalam.
Dan aku...
muak.
Garut, Desember 2022
Komentar
Posting Komentar